Upacara Adat Nyabakng Oleh Suku Dayak Bakati’
Lepas dari kursi
bis, perjalanan disambung dengan sepeda motor selama tiga puluh menit dari kota
Kecamatan Sanggau Ledo, menyusuri jalan tanah campur batu bersusun menuju
Kampung Segiring, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas itu, melintasi hamparan
kebun lada, jagung dan karet disela-sela batas rumah penduduk. “Sumber hidup
kami ini bergantung pada tiga jenis komoditi ini. Kalau karet sifatnya harian,
jagung bulanan. Sedang lada dan padi, tahunan” (Sais, Wakil Ketua Badan
Pemusyawaratan Desa, Desa Pisak, 2007).
Memasuki
perkampungan Dayak Bakati’ yang sebagian besar warganya bertanam karet, jagung,
lada itu, tak ada lagi rumah betang yang menandainya sebagai sebuah kampung
Dayak. Rumah betang merupakan tempat tinggal bersambung pada masyarakat Dayak
di Kalimantan dan Malaysia Timur yang memiliki filosofi kebersamaan, demokratis
dan ekologis itu telah musnah seiring karena faktor politik pada 1904 dimana
kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda untuk memusnahkan rumah betang (Paulus
Florus,et.al., 2005).
Rumah betang
sebagai gambaran keadaan kampung Dayak Bakati’ di daerah ini sudah berganti
dengan rumah-rumah tunggal berdinding semen, jendela kaca. Sebagian besar,
bahkan sudah berhias parabola berikut aksesoris seperti pemutar cakram video.
Sekilas kampung Segiring sudah menjadi kampung yang modern. Sebagian besar
warga memiliki perabot rumah tangga modern, alat dapur mengunakan listrik dan
gas, bahkan gaya hidup modern.
Namun, ditengah perubahan kehidupan tradisional menuju modern itu ternyata menyisakan persoalan pelik. Dari tujuh puluh enam kepala keluarga kampung ini, kini tinggal sebagian kecil yang masih memegang teguh adat, budaya dan kepercayaan asli Dayak Bakati’ semisal ritual Nyabangk, yakni ritual upacara adat menutup siklus tahun perladangan yang lama dan membuka tahun perladangan yang baru.
Namun, ditengah perubahan kehidupan tradisional menuju modern itu ternyata menyisakan persoalan pelik. Dari tujuh puluh enam kepala keluarga kampung ini, kini tinggal sebagian kecil yang masih memegang teguh adat, budaya dan kepercayaan asli Dayak Bakati’ semisal ritual Nyabangk, yakni ritual upacara adat menutup siklus tahun perladangan yang lama dan membuka tahun perladangan yang baru.
Hanya delapan
kepala keluarga yang masih berpegang dan melanjutkan tradisi yang diwariskan
Roda Dua Mansa nenek moyang mereka yang berasal dari Pemagen (panglima atau
pemenggal kepala) yang hidup beranak pinak di Segiring. Roda Dua Mansa ini
memperanakan Supai Mak Upik, Sadani Mak Ngaji dan Santak Mak Batakng. Dari
keluarga inilah, selanjutnya warga Segiring berasal hingga kini.
Bagi masyarakat
perkotaan, padi atau beras hanyalah sekadar barang kebutuhan sehari-hari.
Komoditas yang dapat dibeli asalkan ada uang. Tetapi, bagi masyarakat adat
Dayak Bakati’ di daerah Kabupaten Bengkayang, padi dan beras bukanlah
semata-mata komoditas semata, melainkan berkat Jebata (Sang Pencipta) yang
harus disyukuri.
Padi dan beras adalah sumber kehidupan masyarakat Dayak Bakati’. Karena itu, seluruh rangkaian proses produksi padi itu tidak terlepas dari campur tangan Jebata yang harus selalu dipandang sebagai rangkaian perjalanan hidup itu sendiri. Tidak mengherankan kalau masyarakat Dayak Bakati’ menganggap seluruh alur proses produksi padi : matuk (meminta izin untuk menggarap ladang baru), numa (membersihkan belukar di areal ladang), nabet (menebang pohon), najak (memotong cabang-cabang pohon yang telah tumbang dijadikan hamparan), nyauk (mengeringkan pohon yang ditebang dan siap dibakar), ngeraih (membuat pembatas api di sekeliling ladang), natak (membakar), nyabiong (menempatkan semangat padi) dan nyabangk atau upacara adat tutup tahun sebagai suatu kronologis penting dalam siklus aktivitas perladangan hidup mereka.
Padi dan beras adalah sumber kehidupan masyarakat Dayak Bakati’. Karena itu, seluruh rangkaian proses produksi padi itu tidak terlepas dari campur tangan Jebata yang harus selalu dipandang sebagai rangkaian perjalanan hidup itu sendiri. Tidak mengherankan kalau masyarakat Dayak Bakati’ menganggap seluruh alur proses produksi padi : matuk (meminta izin untuk menggarap ladang baru), numa (membersihkan belukar di areal ladang), nabet (menebang pohon), najak (memotong cabang-cabang pohon yang telah tumbang dijadikan hamparan), nyauk (mengeringkan pohon yang ditebang dan siap dibakar), ngeraih (membuat pembatas api di sekeliling ladang), natak (membakar), nyabiong (menempatkan semangat padi) dan nyabangk atau upacara adat tutup tahun sebagai suatu kronologis penting dalam siklus aktivitas perladangan hidup mereka.
Mereka menghayati
rangkaian proses itu dalam bentuk-bentuk kegiatan ritual berkaitan dengan
kegiatan perladangan yang sudah bermakna religius dan selalu dihubungkan dengan
kebesaran Jebata.
Dalam semangat itu pulalah upacara adat Nyabangk masyarakat Bakati’ di Kabupaten Bengkayang, Kalbar, pada 19-21 Mei 2007 lalu harus dipahami. Nyabangk itu sendiri sebenarnya sudah menjadi kegiatan rutin tahunan masyarakat Bakati’ dan selalu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jebata atas hasil panen padi atau pertanian lainnya yang diperoleh dan selanjutnya memohon berkat dan lindungan untuk tahun berikutnya.
Dalam semangat itu pulalah upacara adat Nyabangk masyarakat Bakati’ di Kabupaten Bengkayang, Kalbar, pada 19-21 Mei 2007 lalu harus dipahami. Nyabangk itu sendiri sebenarnya sudah menjadi kegiatan rutin tahunan masyarakat Bakati’ dan selalu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jebata atas hasil panen padi atau pertanian lainnya yang diperoleh dan selanjutnya memohon berkat dan lindungan untuk tahun berikutnya.
Pelaksanaannya,
para tua-tua adat yang terdiri dari Amak Sabangk dan Amak Gandangk serta
anggota masyarakat yang merayakanya memberi makan roh-roh Pemagen dengan sesaji
yang terdiri dari : daging, darah, kepala, hati (anjing, babi, ayam), beras
kuning, beras pulut, nasi panggang, lambang (lemang), sirih, pinang, kapur,
gambir, besi, tembako, air tawar, tepung beras, tumpi, ketupat, telur ayam
kampung, kundur, timun, ampa padi, lenjuang, pelangkang, tapai tuak, tuak
jandungk, nasi buis, pekasam babi hutan, udang, ikan, kepiting, siput, daun
durian dan langsat, batang pisang, ratih padi, biji timun dan nasi sungki serta
apar.
Sesaji itu
dipersembahkan di lima tempat yakni di wilayah Marindu ditetapkan sebagai
daerah penungkul (tapal batas wilayah) satu. Penungkul dua di jalan Sei Pisak
dan penungkul tiga di jalan Gunung Temuak. Selanjutnya tempat yang keempat di
Benen (lokasi penyembahan), dan tempat terakhir di Pungok yaitu rumah adat yang
letaknya di tengah-tengah kampung. Persembahan sesaji ini selain dilakukan di
lima tempat di atas, juga dilakukan di rumah Ama Sabangk dan Ama Gandangk serta
warga yang merayakannya. Biasanya disudut setiap bilik rumah ada tempat
pemujaan.
Bedanya jenis bahan sesaji antara di lima tempat dan di rumah Amak Sabangk, Amak Gandangk dan anggota adalah pada jenis binatang yang akan dipersembahkan. Di rumah anggota tidak perlu anjing. Anjing hanya sesaji dipersembahkan di daerah penungkul. Hal ini dilakukan karena anjing merupakan simbol memiliki panca indera yang tajam. Dapat menjaga wilayah dari berbagai macam kejahatan.
Bedanya jenis bahan sesaji antara di lima tempat dan di rumah Amak Sabangk, Amak Gandangk dan anggota adalah pada jenis binatang yang akan dipersembahkan. Di rumah anggota tidak perlu anjing. Anjing hanya sesaji dipersembahkan di daerah penungkul. Hal ini dilakukan karena anjing merupakan simbol memiliki panca indera yang tajam. Dapat menjaga wilayah dari berbagai macam kejahatan.
Pungok berukuran
lima kali lima meter ini tak disangka menyimpan misteri Dayak Bakati’.
Sedikitnya tiga puluh tengkorak manusia disimpan dalam tiga keranjang di atas
bilik. Tengkorak-tengkorak itu dikumpulkan oleh puak-puak Dayak Bakati’ sebelum
tradisi mengayau pada masyarakat Dayak dihentikan tahun 1894 pada Perjanjian Damai
Tumbang Anoi yang di prakarsai oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Kalimantan
Tengah (Edi Petebang, 2005).
Dua diantaranya dikenali, Senyarong Kijang dan Sumang Manyurut. Tengkorak Senyarong Kijang adalah seorang perempuan digdaya dijamannya berasal dari Sempauk, namun jauh kalah dengan kedigdayaan Sudung Mak Pancer. Sedangkan Sumang Manyurut seorang lelaki pemberani dan perkasa berasal dari Siding yang takluk di kayau Santak Mak Batangk asal Segiring.
Dua diantaranya dikenali, Senyarong Kijang dan Sumang Manyurut. Tengkorak Senyarong Kijang adalah seorang perempuan digdaya dijamannya berasal dari Sempauk, namun jauh kalah dengan kedigdayaan Sudung Mak Pancer. Sedangkan Sumang Manyurut seorang lelaki pemberani dan perkasa berasal dari Siding yang takluk di kayau Santak Mak Batangk asal Segiring.
Prosesi
ritual adat Nyabangk ini terdiri dari : Takubu, Bapasah, Tangga Tonguh, Nyirang
ka Pungok, Penampen Paing Tawar dan Nariu.
Takubu
Seluruh tua-tua adat dan warga yang melaksanakan kegiatan upacara adat Nyabangk berkumpul di rumah Amak Sabangk yang kini dijabat Simin, tepat jam 18.30 WIB. Mereka melakukan musyawarah untuk membagi peran mempersiapkan perlengkapan ritual adat untuk di bawa ke Pungok, tujuh ratus meter dari rumah Amak Sabangk.
Jam 20.00 WIB seluruh perlengkapan pun lengkap. Perjalanan menuju Pungok pun dimulai. Tua Simin, Tua Liak, Tua Siung, Tua Juim, Tua Kujin, Tua Siton, Tua Akun dan Tua Arin berjalan perlahan, sebab jalan licin baru saja hujan turun. Selang dua puluh menit, rombongon telah tiba di Pungok. Setibanya di Pungok seluruh tua-tua memohon doa kepada Jebata sambil membawa sesaji untuk mohon izin membesihkan peralatan yang akan digunakan untuk ritual Nyabangk pada tahun ini. Selanjutnya mereka membersihkan sabangk (gendang diameter 80 cm, panjang 4 meter), mengeluarkan : linang, gong, tawak, manduh, bandih. Selanjutnya mereka menggoreng tumpe (kue sejenis cucur) dan melatuk (menggongseng) jagung dan padi.
Takubu
Seluruh tua-tua adat dan warga yang melaksanakan kegiatan upacara adat Nyabangk berkumpul di rumah Amak Sabangk yang kini dijabat Simin, tepat jam 18.30 WIB. Mereka melakukan musyawarah untuk membagi peran mempersiapkan perlengkapan ritual adat untuk di bawa ke Pungok, tujuh ratus meter dari rumah Amak Sabangk.
Jam 20.00 WIB seluruh perlengkapan pun lengkap. Perjalanan menuju Pungok pun dimulai. Tua Simin, Tua Liak, Tua Siung, Tua Juim, Tua Kujin, Tua Siton, Tua Akun dan Tua Arin berjalan perlahan, sebab jalan licin baru saja hujan turun. Selang dua puluh menit, rombongon telah tiba di Pungok. Setibanya di Pungok seluruh tua-tua memohon doa kepada Jebata sambil membawa sesaji untuk mohon izin membesihkan peralatan yang akan digunakan untuk ritual Nyabangk pada tahun ini. Selanjutnya mereka membersihkan sabangk (gendang diameter 80 cm, panjang 4 meter), mengeluarkan : linang, gong, tawak, manduh, bandih. Selanjutnya mereka menggoreng tumpe (kue sejenis cucur) dan melatuk (menggongseng) jagung dan padi.
Kulit gendang
direndam selama tiga puluh menit. Sebab, kulit rusa ini akan lembut dan lebih
mudah dimasukkan ke sabangk setelah selama setahun mengering tidak dipergunakan
jika direndam dengan air lebih dahulu. Setelah Amak Gandangk, Liak yang juga
Kepala Dusun ini ditemani Siung, Juim, Kujin, Siton, Aring, Akun dan Simin
memasukkan kulit ke Sabangk, maka usailah kegiatan ritual Takubu. Mereka
mengunci pintu Pungok dan kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat
sejenak, sebab besok pagi jam 04.00 upacara Bapasah akan dimulai.
Bapasah
Sebelum fajar tiba, tepat jam 04.00 Amak Sabangk, Amak Gandangk dan enam anggotanya keluar teratur meninggalkan bilik rumah Amak Sabangk berjalan ke Pungok. Temaram lampu “pelita” minyak tanah menerangi perjalanan mereka. Amak Sabangk memimpin, disusul Amak Gandangk dan anggota yang lain. Maksud kedatangan mereka untuk bapasah. Bapasah suatu ritual adat untuk memohon para orang-orang besar yang mereka sebut sebagai Pemagen (panglima perang) untuk datang makan sesaji yang akan dipersembahkan. Tujuh pemagen yang sangat mereka kenal dan berjasa menyelamatkan mereka. Karena itulah Amak Sabangk, Amak Gandangk dan timnya harus tariu (memanggil) : Santak Mak Batangk, Sadani Mak Ngaji, Supai Mak Pile, Sapuk Sekilat, Saparang Mak Baye, Sudukng Mak Pancer dan Samue Nok Nonggoi.
Sebelum fajar tiba, tepat jam 04.00 Amak Sabangk, Amak Gandangk dan enam anggotanya keluar teratur meninggalkan bilik rumah Amak Sabangk berjalan ke Pungok. Temaram lampu “pelita” minyak tanah menerangi perjalanan mereka. Amak Sabangk memimpin, disusul Amak Gandangk dan anggota yang lain. Maksud kedatangan mereka untuk bapasah. Bapasah suatu ritual adat untuk memohon para orang-orang besar yang mereka sebut sebagai Pemagen (panglima perang) untuk datang makan sesaji yang akan dipersembahkan. Tujuh pemagen yang sangat mereka kenal dan berjasa menyelamatkan mereka. Karena itulah Amak Sabangk, Amak Gandangk dan timnya harus tariu (memanggil) : Santak Mak Batangk, Sadani Mak Ngaji, Supai Mak Pile, Sapuk Sekilat, Saparang Mak Baye, Sudukng Mak Pancer dan Samue Nok Nonggoi.
Dini hari itu,
sabangk bertalu-talu di tabuh. Seketika itu pula suara “lolongan” anjing di
sudut kampung dan jangkrik yang sempat menyeramkan, berlalu dari pendengaran.
Sambil menabuh sabangk, Akun mengisap rokok kreteknya sambil menghitung tujuh
puluh tujuh pukulan yang harus di tabuh. Selanjutnya, Amak Sabangk berikat kain
putih di kepala mengarah ke timur, terbitnya fajar mengucapkan doa memohon pada
tujuh pemagen untuk hadir menyantap makan yang telah dihidangkan.
Usai mengucapkan
doa, Amak Sabang memukul bandih 14 kali. Maksudnya, sebagai tanda bunyi irama
Ngeliluk (irama seni musik khusus tahun baru) boleh dimulai. Sementara itu pada
waktu yanga sama, Liak dan Aring memukul linang (satu set alat musik terbuat
dari kuningan berupa gong kecil berjumlah 8 buah) tanpa gandangk (gendang kulit
rusa berdiameter 25 cm, panjang 60 cm) dan sabangk (gendang kulit rusa
berdiameter 50 cm, panjang 4 meter).
Lima menit
berjalan, ngeliluk pun usai. Irama ngeliluk diganti dengan irama dindong (irama
seni musik khusus untuk penghormatan pemagen). Bedanya dengan ngeliluk, dindong
iramanya sedikit lebih cepat dan sabangk boleh ditabuh oleh dua orang
bersamaan. Begitu irama dindong usai, ayam mulai turun dari pohon, Pungok dan
sekitarnya mulai terang. Dapur warga sekitar perlahan mengepulkan asap, tanda
aktivitas pagi di mulai.
Tangga
Tonguh
Usai Bapasah selama dua jam dua puluh menit, para tua-tua adat segera kembali ke rumah Amak Sabangk. Mereka terlihat agak tergesa-gesa. Aring keluar lebih dahulu membawa bokor berisi sesaji, disusul Akun, Liak, Simin dan beberapa anggota lainnya. Penyeledikan penulis, mereka harus mengelola waktu dengan cermat dan tepat. Sebab, ritual Tangga Tonguh ini dilakukan pada pagi menjelang siang. Hal ini, erat hubungannya dengan pola hidup Pemagen dan Jebata yang kontras dengan kehidupan manusia.
Usai Bapasah selama dua jam dua puluh menit, para tua-tua adat segera kembali ke rumah Amak Sabangk. Mereka terlihat agak tergesa-gesa. Aring keluar lebih dahulu membawa bokor berisi sesaji, disusul Akun, Liak, Simin dan beberapa anggota lainnya. Penyeledikan penulis, mereka harus mengelola waktu dengan cermat dan tepat. Sebab, ritual Tangga Tonguh ini dilakukan pada pagi menjelang siang. Hal ini, erat hubungannya dengan pola hidup Pemagen dan Jebata yang kontras dengan kehidupan manusia.
“Jadi, pada waktu
yang tepat mereka bisa hadir di undang. Jika kesiangan atau waktunya tidak
tepat, maka akan fatal” (Simin, 2007). Sementara rombongan dalam perjalanan,
rumah Amak Sabangk telah dibuka. Mereka duduk sejenak sambil merokok
mendiskusikan perlengkapan yang belum lengkap. Sebab, bahan yang dibutuhkan
harus lengkap. Jika tidak, maka akan fatal. Berdasarkan pengalaman, jika salah
satu terlupakan meskipun kecil maka berdampak bukan saja pada warga sekampung.
Tapi, justru salah satu dari tua-tua ini bisa sakit, bahkan menghantar mereka
pada kematian. Karenanya, Amak Sabangk selalu melakukan ceklist satu persatu
perlengkapan ritual yang dibutuhkan.
Begitu lengkap,
ritual tangga tonguh pun digelar tepat jam 06.30. Seluruh tua-tua adat serempak
mengucapkan doa. Telunjuk mereka selalu dicelupkan ke mangkok kecil berisi
minyak kelapa. Maksudnya, mereka membuat ”jembatan” supaya ketujuh pemagen
datang pula ke rumah para tua-tua adat dan anggotanya untuk di beri makan
sambil memohon kepada Jebata. Usai mengucap doa, Aring naik ke bale (kotak
khusus tempat padi hasil panen tahun lalu) dan meletakan sesaji ke atas meja
penyembahan di sudut kanan atas bilik rumah Amak Sabangk.
Berbeda dengan
Bapasah, ritual Tangga Tonguh ini memohon kepada Jebata, bukan kepada Pemagen.
“Disini kita berhubungan dengan ritual adat ucapan syukur tutup tahun padi yang
lalu dan memanjatkan doa untuk memohon berkat berlimpah pada tahun mendatang.
Jadi ini khusus ritual adat proses siklus perladangan” (Simin, 2007).
Setengah jam berlalu, dari dapur Tua Aring mengambil seekor ayam putih dan menyembelihnya. Darah ayam ditadah dalam sebuah mangkok. Dua helai bulunya dicabut, hatinya dimasak untuk segera dicampur dengan segenggam nasi putih yang ditadah dalam daun simpur (pohon berdaun lebar, daunnya digunakan untuk membungkus nasi). Selanjutnya bandih dipukul sebanyak 27 kali. Tua Arin dan Simin bergilir turun naik bale membawa sesaji diletakkan diatas meja penyembahan, sambil berdoa kepada Jebata.
Setengah jam berlalu, dari dapur Tua Aring mengambil seekor ayam putih dan menyembelihnya. Darah ayam ditadah dalam sebuah mangkok. Dua helai bulunya dicabut, hatinya dimasak untuk segera dicampur dengan segenggam nasi putih yang ditadah dalam daun simpur (pohon berdaun lebar, daunnya digunakan untuk membungkus nasi). Selanjutnya bandih dipukul sebanyak 27 kali. Tua Arin dan Simin bergilir turun naik bale membawa sesaji diletakkan diatas meja penyembahan, sambil berdoa kepada Jebata.
“Acara ini
diakhiri dengan pembacaan doa ngares bia untuk pemagen, napel nyirih dan cuci
tangan pakai tapai tuak beras ketan. Barulah mereka bisa datang untuk makan
sesaji yang disiapkan” kata Simin, sambil melihat derajat matahari sebagai
petunjuk waktu ke luar rumah. Diluar, telah siang. Jam 09.30 tua-tua adat makan
bersama selanjutnya berpacu dengan waktu untuk menggelar ritual Nyirang Ka
Pungok.
Nyirang
Ka’ Pungok
Jam 12.00, Pungok kembali dibuka. Tua-tua adat menurunkan dua tengkorak manusia. Sebelum diturunkan, ritual adat dan sesaji dipersembahkan kepadanya. Beberapa pelangkang dibuat untuk dipersiapkan memberi sesaji di empat lokasi. Pelangkang utama lebih dahulu dibuat, ditanam persis di timur di luar rumah adat. Pelangkang utama dihiasi dengan daun kelapa muda dan kain serta telur ayam kampung.
Jam 12.00, Pungok kembali dibuka. Tua-tua adat menurunkan dua tengkorak manusia. Sebelum diturunkan, ritual adat dan sesaji dipersembahkan kepadanya. Beberapa pelangkang dibuat untuk dipersiapkan memberi sesaji di empat lokasi. Pelangkang utama lebih dahulu dibuat, ditanam persis di timur di luar rumah adat. Pelangkang utama dihiasi dengan daun kelapa muda dan kain serta telur ayam kampung.
Berpacu dengan
waktu, Amak Sabangk selanjutnya memukul bandih sebanyak 21 kali. Hal ini
sebagai tanda bahwa ritual adat sudah pada tahap Nyirang Ka’ Pungok.
Selanjutnya, tua-tua berdoa untuk memberi sesaji tengkorak. Ayam di semblih,
darahnya diambil dimasukan dalam mangkok sebagai perlengkapan sesaji. Akun
mengambil kepala ayam, selanjutnya diikatkan pada daun kelapa muda persis
sejajar dengan dua tengkorak manusia di atas tempayan tua.
Usai mempersembahkan sesaji, linang, bandih, tawak, sabangk pun di tabuh. Ruangan berdebu dan berpasir inipun, kini kelihatan agak bersih. Bahkan, dengan semakin ramainya anak-anak yang datang untuk menonoton turut berkontribusi membersihkan ruangan seiring irama ngeliluk dan dindong yang di bunyikan. Sebuah pemandangan indah bak panggung teater rakyat. Irama ngeliluk dan dindong ini ternyata menghantar tua-tua adat untuk beristirahat selama 180 menit.
Usai mempersembahkan sesaji, linang, bandih, tawak, sabangk pun di tabuh. Ruangan berdebu dan berpasir inipun, kini kelihatan agak bersih. Bahkan, dengan semakin ramainya anak-anak yang datang untuk menonoton turut berkontribusi membersihkan ruangan seiring irama ngeliluk dan dindong yang di bunyikan. Sebuah pemandangan indah bak panggung teater rakyat. Irama ngeliluk dan dindong ini ternyata menghantar tua-tua adat untuk beristirahat selama 180 menit.
Penampen
Paing Tawar
Tepat jam 15.00, usai istirahat singkat, tua-tua berkumpul ke Pungok. Mereka mempersiapkan penampen paing tawar, bokor berisi air kundur, minyak kelapa yang disimpan dalam sebatang bambu kecil dan batu yang diikat melilit ditaruh dalam mangkok. Selama dua puluh menit mereka di Pungok, kini kembali turun sambil membawa seekor ayam dan berjalan ke rumah-rumah warga yang menjadi anggota.
Tepat jam 15.00, usai istirahat singkat, tua-tua berkumpul ke Pungok. Mereka mempersiapkan penampen paing tawar, bokor berisi air kundur, minyak kelapa yang disimpan dalam sebatang bambu kecil dan batu yang diikat melilit ditaruh dalam mangkok. Selama dua puluh menit mereka di Pungok, kini kembali turun sambil membawa seekor ayam dan berjalan ke rumah-rumah warga yang menjadi anggota.
Ciri-ciri warga
yang menjadi anggota ini mudah ditentukan. Karena setiap sudut bilik rumah
terdapat tempat penyembahan. Bahkan, para tua-tua sangat mengenalinya dan bisa
membedakannya. Prosesi acara penampen paing tawar ini sangat meriah. Meriah,
karena kunjungan ini boleh diikuti oleh anak-anak. Sementara seluruh anggota
keluarga yang mau dikunjungi telah siap menerima kedatangan rombongan. Mereka
mempersiapkan tuak dan jamuan sederhana terhadap rombongan yang datang. Jika
dalam keluarga tersebut ada anggota keluarganya sakit, maka salah satu diantara
tua-tua akan melakukan ritual pengobatan. Caranya mengisap bagian yang sakit.
Namun, bagi yang sehat, tua-tua adat hanya mengoleskan minyak kelapa pada
bagian leher, kepala dan pundak.
Nariu
Usai acara penampen paing tawar, tua-tua kembali ke Pungok. Mereka akan menggelar acara nariu (prosesi menurunkan tengkorak untuk di beri makan dan selanjutnya di kembalikan ke asalnya seperti semula sambil menari dan memanggil dan memohon pada Jebata). Prosesi tariu ini diawali dengan menyembelih ayam, darahnya diambil untuk sesaji. Kepala ayam ditusuk dengan daun kelapa, ditaruh persis di atas sabangk. Tua-tua kembali mempersiapkan perlengkapan untuk ritual nariu. Puluhan penari nariu pun telah berkumpul di Pungok. Para penari ini telah siap dengan asesorisnya, giring-giring (gelang terbuat dari kuningan) di kaki dan kalung terbuat dari taring (gigi) aneka binatang hutan di leher.
Usai acara penampen paing tawar, tua-tua kembali ke Pungok. Mereka akan menggelar acara nariu (prosesi menurunkan tengkorak untuk di beri makan dan selanjutnya di kembalikan ke asalnya seperti semula sambil menari dan memanggil dan memohon pada Jebata). Prosesi tariu ini diawali dengan menyembelih ayam, darahnya diambil untuk sesaji. Kepala ayam ditusuk dengan daun kelapa, ditaruh persis di atas sabangk. Tua-tua kembali mempersiapkan perlengkapan untuk ritual nariu. Puluhan penari nariu pun telah berkumpul di Pungok. Para penari ini telah siap dengan asesorisnya, giring-giring (gelang terbuat dari kuningan) di kaki dan kalung terbuat dari taring (gigi) aneka binatang hutan di leher.
Sebelum nariu,
para penari harus menyimak nasihat Amak Sabangk dan Tua Aring. Jika terjadi
sesuatu pada proses nariu, mereka harus duduk manis dan yang lain segera
“menentramkan”. Karena itu, sebelum menari dan nariu, penari wajib mendapat
paing tawar (air penawar) dari Amak Sabangk. Mereka harus mengikuti ritual buah
ngawah. Maksudnya, agar seluruh penari tidak kesurupan dan acara tidak kacau
balau.
Tepat jam 15.30,
prosesi nariu pun dimulai. Nariu ini diawali dengan sesaji bapatek dan bapadu.
Selanjutnya berturut-turut menyembelih ayam, anjing hitam dan babi. Ketika
tua-tua membunuh anjing, tengkorak di atas bilik segera diturunkan. Puluhan
penari lelaki, bertelanjang dada dibawah siap menerima lebih kurang 30
tengkorak manusia dari atas. Seorang tua-tua mengulurkan tengkorak tiga kali
yang disimpan di tiga keranjang.
Begitu keranjang pertama turun, para penari nariu mengelilingi tengkorak dengan irama lambat. Namun, begitu keranjang kedua dan tiga turun irama tarian berubah. Makin lama, makin cepat dan suasana “menakjubkan”. Sementara itu, disudut timur suara seekor babi menjerit menambah suasana “haru”. Babi dibunuh, darahnya dipercikan ke tengkorak. Tiga keranjang tengkorak lalu diangkat kembali satu per satu kembali ke posisi asalnya, yakni diatas bilik Pungok.
Begitu keranjang pertama turun, para penari nariu mengelilingi tengkorak dengan irama lambat. Namun, begitu keranjang kedua dan tiga turun irama tarian berubah. Makin lama, makin cepat dan suasana “menakjubkan”. Sementara itu, disudut timur suara seekor babi menjerit menambah suasana “haru”. Babi dibunuh, darahnya dipercikan ke tengkorak. Tiga keranjang tengkorak lalu diangkat kembali satu per satu kembali ke posisi asalnya, yakni diatas bilik Pungok.
Sabangk ditabuh
Tua Akun bertalu-talu, Amak Sabangk mengucapkan doa, petanda tariu dimulai.
Penabuh sabangk, pemukul linang, bandih, tawak harus prima, sebab ritual tariu
ini butuh waktu sekitar satu jam. Selama satu jam, musik harus kontinyu. Sebab,
musik ini sebagai pengiring ritual menurunkan dan menaikkan tengkorak butuh
waktu yang cukup. Tidak heran, jika penabuh sabangk dua orang. Sebaliknya pula,
penari nariu pun harus cekatan melaksanakan tugasnya, menurunkan dan menaikkan
keranjang berisi tengkorak. Selama proses ini, para penari mandi keringat. Usai
melaksanakan tugasnya, perlahan mereka terlihat mulai lelah, seiring dengan
gelapnya hari di luar Pungok, pertanda hari mulai malam dan mereka pun bergegas
akan mengantar sesaji ke tiga wilayah penungkul.
Sebelum kemalaman,
Amak Sabangk dan Amak Gandangk membagi jumlah yang hadir menjadi tiga kelompok.
Tujuannya agar setiap kelompok membawa sesaji untuk diletakkan di tiga penjuru
kampung. Sebagai penukul di Marindu, Jalan Sei Pisak dan Jalan Gunung Temuak.
Lokas ini diyakini sebagai penunggu kampung yang senantiasa melindungi dan
menjaga warga dari malapetaka yang akan menyerang warga.
Sementara
aktivitas tiga kelompok berjalan, Amak Sabangk membawa sesajian ke Benen
(penyembahan) sekitar tujuh meter ke arah timur dari Pungok. Di lokasi ini
terdapat pohon leban tertua, tempayan dan beberapa asesoris penyembahan
dijadikan pamali untuk di sentuh, apalagi ditebang. Dengan dipersembahkannya
sesaji di Benen ini, maka ritual-ritual siklus perladangan selanjutnya sah
dilakukan warga berlanjut pada hari-hari berikutnya.
Penulis menyaksikan, meski diguyur gerimis prosesi ritual tariu (bagian akhir ini) dipenuhi antusias warga untuk menyaksikannya. Mulai anak-anak hingga orangtua. Hanya pertanyaannya, apakah kehadiran mereka untuk sekadar menonton keunikan adat budaya Bakati’ di tengah badai modernisasi atau sebaliknya justru mendorong semangat untuk tetap melestarikan adat, budaya dan hukum adat sebagai warisan pada generasi Dayak Bakati’ di masa datang?
Penulis menyaksikan, meski diguyur gerimis prosesi ritual tariu (bagian akhir ini) dipenuhi antusias warga untuk menyaksikannya. Mulai anak-anak hingga orangtua. Hanya pertanyaannya, apakah kehadiran mereka untuk sekadar menonton keunikan adat budaya Bakati’ di tengah badai modernisasi atau sebaliknya justru mendorong semangat untuk tetap melestarikan adat, budaya dan hukum adat sebagai warisan pada generasi Dayak Bakati’ di masa datang?
Teater
Rakyat
Jika dipandang dari sudut seni pertunjukan, upacara ritual Nyabank ini erat kaitannya dengan seni pertunjukan, khususnya teater. Sebetulnya unsur semua cabang seni masuk dalam peristiwa ritual ini. Ada seni rupa, tari, musik dan teater. Unsur teaterikal yang menonjol antara lain ketika semua proses dialog antara pemimpin upacara dengan para penari saat upacara nariu. Namun lebih dari itu, unsur teater juga masuk dalam rangkaian setiap upacara dimana terjadi dialog dan monolog dengan sesama petugas upacara dan antara imam yang memimpin upacara dengan para makhluk gaib.
Jika dipandang dari sudut seni pertunjukan, upacara ritual Nyabank ini erat kaitannya dengan seni pertunjukan, khususnya teater. Sebetulnya unsur semua cabang seni masuk dalam peristiwa ritual ini. Ada seni rupa, tari, musik dan teater. Unsur teaterikal yang menonjol antara lain ketika semua proses dialog antara pemimpin upacara dengan para penari saat upacara nariu. Namun lebih dari itu, unsur teater juga masuk dalam rangkaian setiap upacara dimana terjadi dialog dan monolog dengan sesama petugas upacara dan antara imam yang memimpin upacara dengan para makhluk gaib.
Jika unsur seni
ritual ini dilepas atau diambil unsur pertunjukan teaternya bisa diadopsi dan
dapat menjadi ide teaterikal yang kemudian diolah menjadi sebuah pertunjukan
panggung, barangkali bisa menjadi suatu bentuk teater yang indah. Tentu saja
harus dipilah antara ritual dan non ritualnya. Pemisahan itu dapat dilakukan
ketika telah mengalami proses transformasi. Agak sulit memang menemukan unsur
seni tradisi yang murni hiburan sebab seperti juga yang dikatakan oleh Edi
Sedyawati bahwa seni pertunjukan di kalangan masyarakat tradisional mempunyai
fungsi antara lain:
1. Pemanggil kekuatan gaib
2. Penyemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan
3. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat
4. Peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapannya
5. Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (Edi Sedyawati, 1980).
1. Pemanggil kekuatan gaib
2. Penyemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan
3. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat
4. Peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapannya
5. Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (Edi Sedyawati, 1980).
Menyimak uraian di
atas, jelaslah bahwa sebetulnya kita kaya akan seni terutama seni pertunjukan
yang didalamnya ada teater, music dan tari. Sekarang, tinggal bagaimana kita
melakukan proses transformasinya dengan baik dan benar agar unsur ritulanya
tidak hilang begitu saja.
Sumber
Acuan
Edi Petebang, Dayak Sakti, Pengayauan, Tariu, Mangkok Merah, Pontianak, Institut Dayakologi, cetakan ke 3, 2005.
Edi Petebang, Dayak Sakti, Pengayauan, Tariu, Mangkok Merah, Pontianak, Institut Dayakologi, cetakan ke 3, 2005.
Edi Sedyawati,
Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: 1980.
Majalah Kalimantan
Review, Juni 2007.
Paulus Florus, et.al., Kebudayaan Dayak, Aktualisasi dan Transformasi,
Pontianak, Institut Dayakologi, cetakan ke 2, 2005
Simin, Amak
Sabangk-Sesepuh Dayak Bakati’ di Desa Pisak Kecamatan Tujuhbelas Kabupaten
Bengkayang, diwawancarai Mei 2007.
Sais, Wakil Ketua
Badan Pemusyawaratan Desa, Desa Pisak, diwawancarai Mei 2007
Posting: John
Roberto Panurian, S.Sn-http://sengalangburongcomunity.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar